Tidak ada postingan.
Tidak ada postingan.

Menyambung Hidup di Sela-Sela Batu Kali


Nama saya Ramang Noto, umur saya sekitar 39 tahun. Saya tidak pernah sekolah. Saat ini saya telah dikaruniai 3 orang anak. Anak tertua saya baru saja tamat SMP dan tidak melanjutkan lagi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.Anak kedua dan ketiga saya masih di bangku Sekolah dasar. Saya tinggal di desa Manuju tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Sejak kecil orang tua saya telah mengajarkan saya bagaimana hidup dan mencari rezeki dari sungai Jeneberang. Waktu itu orang tua saya mempunyai sawah dan kebun yang letaknya
di pinggir sungai Jeneberang. Sawah dan kebun itu bagi kami sekeluarga tidaklah terlalu luas tetapi hasilnya cukuplah untuk menghidupi kami semua. Kami tidak perlu berpikir bagaimana membeli beras seperti yang saya alami sekarang.
Setelah beberapa kali ada kegiatan proyek, sawah dan kebun itu kemudian harus saya jual karena dibutuhkan oleh pemerintah untuk pembangunan proyek yang orang biasa sebut sand pocket. Saya sendiri tidak tahu apa manfaat dan fungsi sand pocket bagi anggota masyarakat seperti saya. Yang saya tahu bahwa gara-gara sand pocket banyak sawah yang rusak tergenang air karena aliran air ditahan oleh bangunan itu. Sawah-sawah yang tergenang itu kemudian dibeli oleh Pemerintah. Pada saat pembelian itulah saya dan orang tua saya merasa sangat terpaksa menjualnya. Betapa tidak, sawah dan kebun itu adalah tumpuan mata pencaharian keluarga besar saya. Bertani dan berkebun adalah satu-satunya keterampilan saya secara turun temurun. Sementara uang hasil pembayaran ganti rugi yang jumlah pastinya saya tidak tahu hanya dapat saya gunakan sesaat. Saya tidak pernah tahu bagaimana menggunakan uang itu sebagai modal usaha bahkan saya tidak tahu bagaimana membelanjakan uang yang bagi saya waktu itu sangat besar jumlahnya. Sayapun tidak tahu bagaimana beralih mata pencaharian dari petani menjadi pengusaha atau pedagang atau apa lagi yang lain.
Saya tidak pernah mengecap pendidikan.

Sekarang, uang hasil ganti rugi telah lama habis. Saya kembali ke bantaran sungai mencari-cari apa lagi yang bisa saya lakukan di sana, karena saya merasa di sungai Jeneberanglah saya dibesarkan. Di sungai Jenberanglah saya dihidupkan. Dan di sungai Jeneberanglah nenek moyang saya membangun peradaban keluarga besar saya.
Tapi sejak terjadinya bencana alam longsor gunung bawakaraeng, sungai Jeneberangpun seperti memusuhi saya dan menutup dirinya untuk saya jadikan sumber mata pencaharian. Sawah-sawah yang sebelumnya masih bisa saya garap walaupun sudah dibebaskan oleh pemerintah sekarang telah tertutup lumpur dan batu-batu yang besar. Bagi pengusaha dan orang-orang besar di kampung saya dengan cepat batu batu ini dijadikannya sumber rezeki baru. Mereka bisa menjualnya untuk dijadikan bahan bangunan. Mereka punya modal peralatan dan alat pengangkut yang bagi saya tentu saja mustahil untuk saya miliki.

Apa lagi yang bisa saya lakukan?

Akhirnya saya memutuskan bahwa di antara batu-batu kali itu masih ada celah tanah yang bisa saya manfaatkan untuk saya tanami kacang tanah. Dari hasil tanaman kacang tanah itulah yang sedikit dapat menyambung hidup saya dan keluarga saya sekedar untuk membeli beras yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan karena hasil panen dari sawah saya cukup untuk konsumsi keluarga saya.

Selama saya menanam kacang tanah, saya bukannya tenang. Saya malah selalu merasa was-was karena area yang saya tanami adalah area sungai yang tertimbun lumpur dan batu kali. Sewaktu-waktu aliran lumpur besar dari gunung bawakaraeng bisa saja datang menerpa saya pada saat saya ada di sungai. Atau aliran itu akan menyapu bersih tanaman yang baru saja saya tanam.

Dari sekian kali aliran lumpur deras yang mengalir dari hulu sungai Jeneberang, saya mulai bisa menebak-nebak waktu kedatangan aliran lumpur dan batu itu. Sehingga dengan pengetahuan waktu kedatangan itu, saya mengatur jadwal penanaman kacang tanah saya. Tapi saya kembali resah. Karena saya melihat di sekitar area yang saya garap akhir-akhir ini mulai lagi berdatangan alat-alat berat seperti mobil truk, dozer dan excavator. Dan kekwatiran saya betul adanya. Ternyata, pasir dan batu yang menimbun sungai Jeneberang rencananya akan dikeruk oleh pemerintah untuk memperbaiki alur sungai Jeneberang. Artinya sela-sela batu yang selama ini saya garap untuk menanam kacang tanah pun pasti akan dikeruk. Artinya saya dan ratusan orang-orang lainnya seperti saya harus kembali berpikir keras mau kemana lagi mencari nafkah dan mata pencaharian, jika sela-sela batupun harus saya tinggalkan. Artinya lagi, akan ada masa waktu tertentu di mana pencaharian saya dan ratusan orang-orang lain seperti saya akan terhenti sampai kami mendapatkan sumber pendapatan baru. Tapi saya tak pernah putus asah. Dalam hati kecil saya, saya tetap berharap bahwa Sungai Jeneberang adalah hidup saya. Semoga setelah pemerintah memperbaiki alurnya, maka pemerintah juga akan memperbaiki nasib orang-orang yang ada di sekitarnya. Semoga!!! (MR)

Community Meeting

Community Meeting
Socialization and dissemination